Sunday, April 14, 2013

Sistem perancangan basis data



Pengantar Umum

Merancang sistem komputerisasi adalah tugas pokok dari seorang Systems Analyst. Hasil rancangan tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan pembuatan program aplikasi oleh programmer. Sistem komputerisasi yang telah dibuat selanjutnya akan diimplementasikan oleh user.

Pada kenyataannya, banyak sekali pertimbangan yang harus dilakukan seseorang dalam membuat sistem komputerisasi, misalkan spesifikasi hardware dan software (teknologi) apa saja yang dibutuhkan, berapa anggaran yang disediakan, siapa saja yang terlibat dan harus ditraining, waktu yang tersedia, dan sebagainya.

Karenanya, perancangan sistem komputerisasi akan melibatkan banyak orang di dalamnya. Hal ini mengharuskan dibuatnya ‘master plan,’ ‘blue print,’ atau skenario umum yang harus disepakati bersama terlebih dulu.

Catatan ini hanya memberikan sedikit gambaran dari perancangan sistem komputerisasi  yang sangat rumit, yaitu hanya membahas tentang Data Flow Diagram, Entity Relationship Diagram, dan Normalisasi Data.

Data Flow Diagram (DFD)

Pengantar DFD

DFD merupakan salah satu komponen dalam serangkaian pembuatan perancangan sebuah sistem komputerisasi. DFD menggambarkan aliran data dari sumber pemberi data (input) ke penerima data (output). Aliran data itu perlu diketahui agar si pembuat sistem tahu persis kapan sebuah data harus disimpan, kapan harus ditanggapi (proses), dan kapan harus didistribusikan ke bagian lain.





Komponen-komponen DFD

Komponen-komponen DFD terdiri atas :
 
        Terminator       Proses       Alur Data       Penyimpan Data (data store)

Gambar 1. Komponen-komponen DFD

(1). Terminator

Terminator dapat disebut juga ‘Kesatuan Luar,’ yaitu suatu unit kerja/ jabatan, atau sejenisnya yang berada di luar sistem tetapi memberi andil atas pemberian atau penerimaan data dari sistem secara langsung. Terminator dapat pula disebut dengan ‘Sumber Pemberi Data (input),’ maupun ‘Tujuan Pemberian Data (output).’

Pemberi data dan penerima data yang dimaksud adalah pihak yang sangat dekat dan memiliki hubungan langsung dengan sistem. Adapun pihak luar yang berhubungan dengan pihak luar lainnya tidak boleh digambarkan.
(2). Proses

Proses adalah suatu tindakan yang akan diambil terhadap data yang masuk. Karena proses adalah tindakan, maka proses berisi kata kerja, Proses diberikan identifikasi (nomor) agar mempermudah sekuen untuk diagram detilnya.

 (3). Alur Data

Alur data menggambarkan data yang mengalir dari terminator ke proses atau dari proses ke proses lainnya. Data yang dibawa oleh alur data harus disebutkan dan diletakkan di atas lambang alur data dan bila alur data digambar panjang, sebaiknya penulisan data mendekati lambang anak panahnya.


Data yang menempati alur data dapat berupa elemen data tunggal, maupun kumpulan elemen data. Misalkan, pada kumpulan elemen data : ‘Jawaban Ujian’, dapat ditulis secara lengkap dengan menyebutkan setiap elemen data yang ada di sana, yaitu : ‘Lembar Jawaban’, dan ‘Naskah Soal’.

(4). Penyimpan Data (Data Store)

Data yang akan disimpan perlu ditempatkan ke satu tempat penyimpanan data. Data yang disimpan dapat berupa data manual maupun data digital. Untuk data digital, penyimpan data tersebut kelak akan dijadikan file data di komputer. Alur data yang anak panahnya menuju penyimpan data, kegiatannya adalah ‘menulis/ merekam’ data, sehingga isi file data akan berubah karenanya. Sedangkan alur data yang anak panahnya menuju ke proses dari penyimpan data, kegiatannya adalah ‘membaca’ data, sehingga isi file data tidak akan berubah karenanya.


LEVELISASI DFD

DFD digambarkan secara bertingkat, dari tingkat yang global berturut-turut hingga tingkat yang sangat detil. Tingkat yang global (umum) disebut dengan ‘Diagram Konteks’ atau ‘Context Diagram’. Ini termasuk level 0.

Selanjutnya, dari diagram konteks, prosesnya dijabarkan lebih rinci lagi di ‘Diagram Nol’ atau ‘Zero Diagram.’ Ini disebut level 1. Pada diagram nol ini yang berkembang hanya proses dan alur data yang menghubungkan proses-prosesnya, sedangkan jumlah terminator dan alur data yang masuk atau keluar dari terminator, tetap.

Bila, masih dirasakan perlu memerinci proses berikutnya, maka diagram selanjutnya disebut dengan ‘Diagram Detil’ atau ‘Diagram primitif.’ Ini disebut dengan level 2. Dalam diagram detil, yang digambar cukup proses (nomor berapa) yang perlu didetilkan saja, selain itu (proses lainnya, atau terminatornya) tidak perlu digambarkan.

Bila masih dapat lebih didetilkan lagi, maka level 3, dan seterusnya bisa dibuat.

Contoh Kasus

Di sebuah tempat penyewaan Video Compact Disk (VCD), masih dilakukan pencatatan manual untuk Penyewaan dan pengembalian VCD oleh Penyewa. Dalam kasus ini, akan dirancang sistem komputerisasi Penyewaan (saja) VCD tersebut.

Analisis

1. Pihak-pihak yang terkait :
a.     Penyewa;
b.     Pemilik usaha;
c.      Petugas.

Petugas berada di dalam sistem (yang menjalankan sistem), sehingga tidak perlu digambarkan. Dari sini, terdapat 2 terminator, yaitu a dan b.

1.a. Penyewa

Data apa saja yang akan diberikan oleh Penyewa kepada sistem, dan data apa saja yang diberikan sistem kepada penyewa ?. Analisis ini bertujuan untuk menentukan data apa saja yang akan mengalir di alur data dari terminator Penyewa ke sistem (proses), dan sebaliknya.

1.a.1. Penyewa Baru
         Penyewa baru (di kasus ini) harus membuat Kartu Anggota terlebih dulu. Pembuatan Kartu Anggota tidak dipungut biaya tetapi si Penyewa harus menunjukkan identitas diri (contoh :  KTP).

Petugas akan mencatat identitas Penyewa, membuatkan Kartu Anggota, dan bersama dengan KTP tersebut diserahkan kembali ke Penyewa.


Proses manual bahwa KTP tersebut dikembalikan ke Penyewa tidak harus digambarkan di dalam arus data.

1.a.2. Prosedur Penyewaan oleh Penyewa

Penyewa yang akan meminjam film dipersilakan mencari sendiri filmnya, namun, bila mereka enggan mencarinya (tidak ketemu), mereka dapat langsung bertanya ke petugas. Petugas akan mengecek data film yang dicari dan akan dipinjam tersebut ke file di komputer. Hasil pengecekan itu diinformasikan kepada Penyewa.

Bila film dicari ada dan mereka mau meminjamnya, maka si Penyewa harus menyerahkan Kartu Anggotanya (di lapangan, bisa saja hanya dengan menyebutkan identitasnya saja), dan uang sewanya.

Adakalanya, petugas yang tidak yakin akan keanggotaan si Penyewa, dia melakukan cek keanggotaan ke file komputer. Bila ternyata data keanggotaannya tidak ada, maka si Petugas akan melakukan penolakan (pembatalan transaksi).

Bila benar anggota, maka Petugas akan mencatat data film yang dipinjam si Penyewa tersebut (transaksi) dan akan menyerahkan kembali Kartu Anggota dan film yang akan dipinjam tersebut ke Penyewa.

[Film | Informasi Penolakan] bisa ditulis : Film, Informasi Penolakan.

1.b. Pemilik Usaha (disingkat dengan Pemilik).

Apa saja data yang dibutuhkan oleh pemilik atas sistem, dan data apa saja yang diberikan oleh pemilik kepada sistem, perlu di analisis. Analisis ini akan menghasilkan alur data apa saja yang mengalir dari  Terminator ke sistem dan sebaliknya.

Pada kasus ini, dicontohkan bahwa Pemilik hanya butuh laporan keuangan harian.


Dari analisis di atas, dapat dirancang DFD konteksnya :



Gambar 6. DFD Konteks Kasus di Atas

“Aplikasi Peminjaman” yang tergambar di atas bisa saja ditulis secara detil, misalkan Bukti Keanggotaan, Uang Sewa, dan Daftar Film yang akan Disewa. “Identitas” boleh saja ditulis [KTP|SIM].

Sekali lagi, yang mengalir adalah data yang akan mempegaruhi proses komputerisasi, sedangkan untuk proses manualnya tidak perlu digambarkan. Misalkan, sewaktu akan meminjam film, Penyewa menyerahkan Kartu Anggota dan sewaktu menerima film, Kartu Anggota tersebut dikembalikan. Hal itu tidak perlu digambarkan.

2. Pembuatan Diagram Nol (Level 1)

Diagram Nol adalah pengembangan proses yang lebih mendetil dari proses (sistem) yang ada di konteksnya. Jadi, jumlah terminator dan alur data yang masuk dan keluar dari terminator harus tetap.

2.1. Proses Pembuatan Kartu Anggota

Lihat poin 1.a.1. di atas. Gambar DFD-nya :

Gambar 7. Penggalan Diagram Nol

2.2. Proses Penyewaan VCD

Lihat poin 1.a.2. di atas. DFD-nya akan digambarkan sebagai :
Gambar 8. Penggalan Diagram Nol

2.3. Proses Permintaan Informasi Keberadaan Film
 Gambar 9. Penggalan Diagram Nol

2.4. Gambar DFD Zero (level 1) Lengkapnya

Gambar 10. DFD Level 1 Kasus di Atas

Beberapa catatan tambahan :

(1)  Pembuatan rancangan DFD harus sesuai dengan prosedur yang berlaku di tempat penelitian (jadi harus ada pembahasan mengenai prosedur yang berlaku, dan prosedur tersebut bukan penguji yang menentukan);
(2)  Penggambaran DFD hendaknya dibuat sebaik mungkin (mudah ditelusuri, dan tidak rumit, misalkan dengan tidak adanya alur data yang bersilangan).
(3)  Bila akan terjadi persilangan alur di penyimpan data, maka penyimpan data tersebut dapat digambar kembali dan diberi tanda ‘*’ yang menandakan bahwa penyimpan data tersebut sama dengan nama penyimpan data sebelumnya (copy).
(4)  Tanda ‘*’ di nomor proses berarti proses tersebut tidak perlu didetilkan lagi.

3.     Pembuatan Diagram Detil (level 2)

Diagram detil perlu digambarkan bila masih ada suatu proses yang bisa dirinci lebih lanjut. Di sini dimisalkan penggambaran dari proses 1.0 (Pembuatan Kartu Anggota).


Gambar 11. Diagram 1.0 Level 2
Gambar 12. Diagram 2.0 Level 2


ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM (ERD)

Pengantar

ERD adalah gambaran mengenai berelasinya antarentitas. Sistem adalah kumpulan elemen yang setiap elemen memiliki fungsi masing-masing dan secara bersama-sama mencapai tujuan dari sistem tersebut. ‘Kebersama-sama’-an dari sistem di atas dilambangkan dengan saling berelasinya antara satu entitas dengan entitas lainnya.

Entitas (entity/ entity set), memiliki banyak istilah di dalam ilmu komputer, seperti tabel (table), berkas (data file), penyimpan data (data store), dan sebagainya.

Komponen-komponen ERD

ERD memiliki komponen-komponen :

                              Entitas                Relasi            Atribut

Gambar 13. Komponen-komponen ERD.

1.     Entitas dan atribut.

Seperti telah dijelaskan di atas, entitas adalah tempat penyimpan data, maka entitas yang digambarkan dalam ERD ini merupakan data store yang ada di DFD dan akan menjadi file data di komputer.

Entitas adalah suatu objek dan memiliki nama. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika objek ini tidak ada di suatu enterprise (lingkungan tertentu), maka enterprise tersebut tidak dapat berjalan normal. Contoh, entitas ‘MAHASISWA’ harus ada di lingkungan perguruan tinggi, begitu juga dengan entitas ‘DOSEN’, ‘MT_KULIAH’, dan sebagainya.

Di dalam entitas ‘MAHASISWA’ berisi elemen-elemen data (biodata mahasiswa) yang terdiri atas NPM, NAMA, KELAS, ALAMAT, dan sebagainya. NPM, NAMA, KELAS, dan ALAMAT disebut dengan atribut (field).

Apa saja atribut yang bisa menjadi ciri dari entitas, secara sederhana dapat dilakukan dengan melakukan pertanyaan logis. Misalkan, di entitas MAHASISWA ada atribut NILAI. Tanyakan ke mahasiswa, ‘berapa nilai      anda ?.’ Tentu si mahasiswa akan berbalik tanya : ‘nilai apa ?,’ karena pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab langsung, maka NILAI bukanlah atribut dari mahasiswa.

Jika, pertanyaan yang diajukan dapat dijawab entitas secara logis dan benar, maka ia merupakan atributnya. Misalkan ‘berapa tinggi badan anda ?,’ maka tinggi badan adalah atribut dari mahasiswa, meskipun hal itu tidak perlu digunakan karena tidak berfungsi apa-apa dalam kemahasiswaannya.

Jadi, ada atribut yang harus ada, ada atribut yang boleh ada, dan ada atribut yang tidak boleh ada, di dalam sebuah entitas. Contoh penggambaran entitas dan atributnya.

Penggambaran ER dari kasus di atas (lanjutan dari DFD) dilakukan dengan cara :

(1)  Data Store (penyimpan data) yang ada di DFD akan menjadi Entity di dalam ERD;
(2)  Tentukan atribut-atribut (secara logika) yang harus ada di dalam setiap entitasnya;
(3)  Tentukan serajat kardinalitasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku di rental tersebut (dalam hal ini, setiap Penyewa boleh menyewa film lebih dari satu);
(4)  Tentukan kunci atribut di setiap entitasnya.


Gambar 16. ERD dari Kasus di Atas

Derajat kardinalitas yang terjadi adalah M : N (many to many). Mengapa tidak M : M, karena belum tentu “10 orang penyewa pasti menyewa 10 film.” Karena tidak selalu M = M, maka dipilih M : N saja, jadi, suatu saat M boleh = N, dan di saat lain boleh M ¹ N.

Cara menentukan many to many-nya adalah dengan membuat dua kalimat bolak-balik. Derajat kardinalitas kalimat pertama diletakkan di atas, dan derajat kardinalitas kalimat kedua diletakkan di bawah.

Kalimat pertama : “satu orang penyewa boleh pinjam satu atau lebih (judul) film.”

Kalimat kedua : “satu (judul) film boleh dipinjam oleh satu atau lebih penyewa”


Gambar 17. Penentuan Many to Many

Di antara derajat kardinalitas yang berada di atas dan bawah, dicari yang terbesar (yang kecil dihapus), maka akan didapatkan M : M yang pada akhirnya dilambangkan dengan M : N.


4.     Penentuan Primary Key

Di setiap entitas di dalam ERD (di gambar 12 di atas), seharusnya ada atribut (field) yang dipilih untuk dijadikan kunci utama atribut (primary key/ key field), yaitu atribut yang dijadikan identitas yang menjamin keunikan (tidak ada yang sama) isi datanya.

Misalkan, untuk entitas mahasiswa dipilih atribut NPM sebagai kunci utama atributnya karena tidak ada satupun mahasiswa yang memiliki NPM yang sama.

Penulisan kunci utama atribut di dalam ERD harus dibedakan dengan atribut lainnya, misalkan dengan pemberian tanda ‘*’ di depan nama atributnya, atau digarisbawahi atributnya.

Secara logika, memang mudah menentukan sebuah atribut kunci, namun sesungguhnya, kunci utama diperoleh dari kunci kandidat, dan kunci kandidat diperoleh dari kunci super.

SUPER KEY

Super key adalah satu atau lebih field yang dapat dipilih untuk membedakan (mengkarakteristikkan) antara satu record dengan record lainnya. Bila filenya adalah MAHASISWA, maka satu atau lebih field yang dipilih agar dapat membedakan antara satu orang mahasiswa dengan mahasiswa lainnya.

NPM jelas bisa membedakan, NAMA juga bisa, namun dengan syarat tidak ada nama yang sama, gabungan NPM dan NAMA pasti bisa membedakan, apalagi gabungan NPM, NAMA dan TGL_LAHIR. Sehingga, super key bisa merupakan kombinasi dari satu atau gabungan field yang dapat mencirikan suatu record.

Super keynya : NPM
             NAMA (dengan syarat tidak ada nama yang sama)
             ALAMAT (dengan syarat alamat tidak ada yang sama)
             TGL_LAHIR (dengan syarat tidak ada tanggal lahir yang sama)
             NPM+NAMA
             NPM+NAMA+ALAMAT
             NPM+TGL_LAHIR
             NPM+ALAMAT+TGL_LAHIR
             dan berbagai kombinasi lainnya

CANDIDATE KEY

Kunci kandidat adalah kunci super dengan jumlah field paling sedikit, maka diperoleh : NPM, NAMA, ALAMAT, TGL_LAHIR (karena masing-masing hanya terdiri dari 1 field saja).

PRIMARY KEY

Kunci utama adalah kunci kandidat yang dipilih dengan kemungkinan kepemilikan nilai data field yang berbeda antara satu record dengan record lainnya. Maka dipilih NPM karena tidak ada mahasiswa yang memiliki NPM yang sama. Jelaslah, kunci utama pastilah merupakan kunci kandidat dan juga kunci super, tetapi sebaliknya, kunci super dan kunci kandidat belum tentu merupakan kunci utama.

ALTERNATE KEY

Kunci kandidat yang tidak terpilih menjadi kunci utama disebut dengan kunci alternatif.


NORMALISASI DATA (ND)

Normalisasi data adalah suatu proses/ prosedur/ cara yang menjamin sebuah data menjadi valid, dan efisien. Di dalam sistem basis data, ND juga berfungsi untuk meniadakan kerangkapan data (redundancy).

Banyak tahapan dalam ND, namun di sini hanya diperkenalkan 3 tahapan yang disebut dengan 1NF (first normal form), 2NF (second normal form), dan 3NF (third normal form).

1.     1NF/ First Normal Form (Bentuk Normal Pertama)

Pada tahap ini, setiap atribut diperiksa apakah sudah bersifat ‘atomik’, atau apakah atribut tersebut dalam penggunaannya kelak tidak perlu dibagi-bagi lagi. Contoh : Untuk penulisan atribut NAMA yang isi datanya adalah “George Washington”.

Apakah nama “George Washington” selamanya akan ditulis dengan “George Washington ? ”,  bila ya, maka atribut NAMA sudah atomik. Tetapi, adakalanya, “George Washington” akan dituliskan sebagai “Washington, George”. Kalau demikian, bagaimana caranya mencetak nama “Washington, George” bila data nama yang disimpan adalah “George Washington” ?.

Untuk itu, atribut NAMA harus dibagi lagi (karena belum atomik), menjadi NAMA1 yang berisi “George”, dan NAMA2 yang berisi “Washington”, sehingga untuk mencetak “Washington, George”, cetak dulu NAMA2, baru NAMA1.

Lihat gambar 16 di atas, atribut ALAMAT dibagi-bagi lagi menjadi JALAN, RT/RW, NO_RUMAH, dan KD_POS.





2.     2NF/ Second Normal Form (Normalisasi Bentuk Kedua)

Normalisasi bentuk kedua mensyaratkan bahwa 1NF sudah terpenuhi dan setiap atribut yang bukan merupakan kunci harus tergantung sepenuhnya dengan atribut kuncinya.

Hal ini merupakan kelanjutan dari bahasan di ERD tentang entitas dan atribut. Misalkan, untuk data DOSEN, bila dipilih KD_DOSEN sebagai kunci atributnya, maka semua atribut yang ada harus tergantung secara fungsional dengan atribut KD_DOSENnya. Artinya, bila isi KD_DOSEN berganti, maka dosen (orangnya) harus merupakan orang yang lainnya.

Contoh atribut yang salah (bila ada) di dalam entitas DOSEN yaitu NAMA_MHS. NAMA_MHS tidak tergantung pada KD_DOSEN.

3.     3NF/ Third Normal Form (Normalisasi Bentuk Ketiga)

Normalisasi bentuk ketiga mensyaratkan bahwa 2NF sudah terpenuhi dan setiap atribut yang bukan merupakan kunci tidak boleh tergantung dengan atribut yang bukan kunci lainnya. Atau “menghilangkan ketergantungan transitif”.

Contoh kalimat ketergantungan transitif adalah : “Bila A tergantung B, dan B tergantung C, maka A akan tergantung pula oleh C”. Ini harus ditiadakan, menjadi A tergantung B, dan C juga tergantung B.

Contoh : dalam sebuah file ada field  NPM, NAMA, TGL_LAHIR, KD_POS, KOTA dengan catatan KD_POS dan KOTA merupakan alamat dari mahasiswa.

NAMA, TGL_LAHIR, KD_POS, KOTA tergantung pada NPM-nya. Tetapi, KOTA tergantung pada KD_POS, jadi, susunan atribut ini tidak memenuhi syarat 3NF. Entitas ini harus dibagi menjadi 2, yaitu entitas MAHASISWA yang terdiri dari NPM, NAMA, TGL_LAHIR, KD_POS, dan entitas KODEPOS yang terdiri dari KD_POS dan KOTA.

KD_POS di entitas MAHASISWA merupakan kunci tamu, dan KD_POS di entitas KODEPOS merupakan kunci utama.


Penyelesaian dari kasus di atas :

Hasil proses normalisasi bentuk pertama :



Proses normalisasi bentuk kedua :


Hasil proses normalisasi bentuk kedua :

Gambar 19. Hasil Normalisasi Data Tingkat kedua

Hasil proses normalisasi bentuk ketiga :

         Atribut ‘Kota’ di entitas Penyewa tergantung transitif kepada ‘Kd_Pos’. Karenanya, atribut ‘Kota’ dijadikan file sendiri dengan kunci atribut ‘Kd_Pos’.


Gambar 20. Hasil Normalisasi Data Tingkat Ketiga


4.     File-file data yang digunakan

Dari hasil proses normalisasi data di atas, maka terbentuk tabel-tabel yang di komputer akan menjadi file-file data yang akan digunakan sebagai tempat menyimpan data.  File-file data yang terbentuk tadi akan disesuaikan formatnya dengan bahasa pemrograman yang akan digunakan.

Dalam data base, pembuatan tabel tersebut dilakukan dengan DDL (data definition language) untuk melakukan create table, dan pemasukan datanya dilakukan dengan DML (Data Manipulation Language) untuk melakukan insert data. Contoh bahasa yang digunakan adalah SQL atau DB2.

Contoh bila dalam bahasa pemrograman dBase :

1.     Nama File : PENYEWA.DBF
      
Nama Field
Jenis Field
Panjang
Index
NO_ANG
Characters
     6
  Y
NAMA
Characters
    20

JALAN
Characters
    15

NO_RUMAH
Characters
      5

RT_RW
Characters
      8

Kd_Pos
Characters
      5


2. Nama File : PINJAM.DBF
      
Nama Field
Jenis Field
Panjang
Index
NO_KWIT
Characters
     6
  Y
NO_ANG
Characters
     6

KD_FILM
Characters
     6

TGL_PINJ
Characters
    10

TGL_KEMB
Characters
    10

JML_FILM
Numeric
      2

JML_BYR
Numeric
      6

JML_DEN
Numeric
      6

TGL_BYR
Characters
     10

TGL_DEN
Characters
     10


3. Nama File : FILM.DBF
      
Nama Field
Jenis Field
Panjang
Index
KD_FILM
Characters
     6
  Y
JUD_FILM
Characters
    20

STOCK
Numeric   
      2

JNS_FILM
Characters
    15

HRG_SEWA
Numeric   
      5


4. Nama File : KOTA.DBF
      
Nama Field
Jenis Field
Panjang
Index
KD_POS
Characters
     5
  Y
KOTA
Characters
    15



DDL :
          Ketik Create;
          Kemudian tentukan field fieldnya melalui menu

Rancangan I/O :






Struk peminjaman



 






















KESIMPULAN :

Mata kuliah Perancangan Sistem ini bertujuan untuk membuat sistem komputerisasi, di mana di dalamnya terdapat file-file yang merupakan hasil dari perancangan (data store di DFD, dan Entity di ERD).
Adapun proses atau prosedur manualnya tidak perlu digambarkan. Di pelajaran ini yang perlu dipikirkan hanyalah, bagaimana membentuk file-file dalam satu kesatuan (sistem), bagaimana agar file-file tersebut dapat berdaya-guna secara efisien dan memenuhi aturan-aturan sebuah perancangan yang baik.


Thursday, April 11, 2013

contoh Sistem



Karakteristik Sistem

• Memiliki komponen

Sistem ini dikembangkan untuk mempermudah proses pendistribusian tiket, proses reservasi ini memungkinkan pemesanan untuk tidak ketemu langsung dengan pelanggan, pemesan dapat melakukan proses reservasi kapanpun dan dari manapun melalui portal online yang kami sediakan.
Proses Reservasi hanya membutuhkan informasi KTP sebagai validator pada saat penukaran bukti reservasi dengan tiket. Validasi terhadap bukti reservasi dianggap valid jika informasi data KTP yang ditunjukan sesuai dengan data KTP yang digunakan pada saat reservasi.
Reservasi dianggap valid jika total bayar yang tertera pada proses reservasi sesuai dengan total setor yang masuk pada sistem kami, dengan tetap memperhatikan kode unik yang diperoleh pada saat reservasi. Karena kode inilah yang merupakan bagian terpenting untuk proses validisasi terhadap jumlah nilai setoran yang masuk ke sistem ini.
Sistem reservasi pesawat terbang pada suatu maskapai penerbangan sangat diperlukan guna efisien dan efektifitas maskapai penerbangan tersebut. Dalam sistem reservasi pesawat terbang ini mencakup segala informasi mengenai jadwal penerbangan, pemesanan tiket pesawat terbang, data penumpang pesawat terbang, biaya tiket pesawat terbang, pembatalan keberangkatan, daftar penumpang dalam suatu pesawat, dan informasi-informasi lain.

Dengan terus berkembangnya teknologi internet, web menjadi suatu alat bantu yang tidak hanya mampu menyediakan informasi, tetapi juga mampu untuk mengolah informasi. Sehingga dengan menggunakan web daya jangkau layanan suatu maskapai penerbangan sangat luas dan juga memudahkan calon penumpang sehingga tidak perlu datang langsung ke kantor cabang, tetapi cukup menggunakan internet dimanapun berada untuk melakukan pemesanan tiket pesawat terbang. Proses pengolahan informasi pada sistem reservasi pesawat terbang dengan memanfaatkan teknologi web menyebabkan web menjadi media informasi yang dinamis yang dapat memudahkan calon penumpang dalam pemesanan tiket pesawat terbang.

• Batas sistem (boundary)
1. Sistem tersebut tidak membahas bagaimana cara penukaran bukti sector dengan tiket aksi.
2. Kami tidak membahas penentua jadwal dan tarif setiap maskapai.
3. Kami tidak membahas bagaimana cara tentang pembatalan tiket, termasuk berapa jumlah nilai dari nilai setoran yang dapat kami berikan kepada pemesan.

• Lingkungan luar sistem (environment)
Bank sebagai sarana pembayaran / transaksi pemesanan tiket pesawat terbang.
Instansi maskapai penerbangan.

• Masukan sistem (input)
Entri data merupakan informasi yang menyediakan data dan pengolahan data
untuk segala informasi mengenai jadwal penerbangan, pemesanan tiket pesawat terbang, data
penumpang pesawat terbang, biaya tiket pesawat terbang, pembatalan keberangkatan, daftar
penumpang dalam satu pesawat.

• Keluaran sistem (Output)
Data reservasi , yang merupakan data pemesan yang telah tervalidasi.

• Pengolah sistem (Process)
Data yang masuk dari pemesan difilter dengan beberapa kriteria, salah satunya adalah informasi mengenai jumlah nilai setoran yang masuk pada system, apakah sesuai dengan nilai yang seharusnya disetor.
Data yang masuk pada system reservasi ini yang berkaitan dengan informasi jadwal penerbangan,kelas tiket pesawat, jumlah tiket yang diinginkan pemesan harus disesuaikan dengan ketersediaan tiket yang ada.
Data penumpang pesawat terbang diperoleh dari data reservasi yang sudah tervalidasi.
Tiket pesawat terbang dipelloreh dari data penumpang yang sudah tervalidasi.
Pembatalan keberangkatan dilakukan dengan melakukan konfirmasi pembatalan erhaddap system.
Data daftar penumpang dalam satu pesawat diperoleh dari data penumpang yang sudah tervalidasi dan penumpah yang sudah mendapatkan tiket. Data pembatalan tiket pesawat terbang juga diperhitungkan dalam penentuan penumpang dalam satu pesawat terbang.

• Sasaran sistem
Orang- orang yang membutuhkan kenyamanan dan kemudahan dalam pemesanan tiket pesawat terbang.


Tujuan dan Manfaat Sistem

Tujuan Sistem :

• Mempermudah pengguna transportasi pesawat terbang untuk memperoleh informasi mengenai jadwal penerbangan, pemesanan tiket pesawat terbang, data penumpang pesawat terbang, biaya tiket pesawat terbang, pembatalan keberangkatan, daftar penumpang dalam satu pesawat, pemesanan tiket pesawat terbang.

Manfaat Sistem :
1. Sistem reservasi pesawat terbang berbasis web dapat menyediakan data dan pengolahan data untuk segala informasi mengenai jadwal penerbangan, pemesanan tiket pesawat terbang, biaya tiket pesawat terbang dan juga pembatalan keberangkatan suatu pesawat terbang.
2. Sistem reservasi pesawat terbang dapat diakses secara online di setiap tempat yang memiliki sambungan internet. Sehingga sangat memudahkan pengguna yang ingin melakukan reservasi pesawat terbang.
3. Sistem reservasi Pesawat Terbang didesain menggunakan metode pengolahan data langsung. Penggunaan pengolahan data langsung tersebut dimaksudkan agar setiap kejadian atau informasi pemesanan tiket dapat secara langsung diproses dengan cepat.

Pihak-pihak yang terlibat dalam sistem :
1. Pelanggan.
2. Maskapai
3. Pegawai
4. Managemen
5. Pemesan
Metode Pengembangan Sistem :
Prototyping

Pendekatan Prototyping adalah proses iterative yang melibatkan hubungan kerja yang dekat antara perancang dan pengguna, sehingga kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh klient dapat terpenuhi oleh pengembang dengan memberikan fitur-fitur dalam aplikasi tersebut. Dalam hal ini pelanggan dapat melakukan customizing terhadap aplikasi tersebut, termasuk dalam hal desain interfacenya.


Proses Prototyping

1) Pengumpulan kebutuhan: developer dan klien bertemu dan menentukan tujuan umum, kebutuhan yang diketahui dan gambaran bagian-bagian yang akan dibutuhkan berikutnya;Perancangan: perancangan dilakukan cepat dan rancangan mewakili semua aspek software yang diketahui, dan rancangan ini menjadi dasar pembuatan prototype; Evaluasi Prototype: klien mengevaluasi prototype yang dibuat dan digunakan untuk memperjelas kebutuhan software.
2) Perancangan: perancangan dilakukan cepat dan rancangan mewakili semua aspek software yang diketahui, dan rancangan ini menjadi dasar pembuatan prototype;
3) Evaluasi Prototype: klien mengevaluasi prototype yang dibuat dan digunakan untuk memperjelas kebutuhan software.


Alasan Penggunaan Model Prototyping
1) Komunikasi antara analis sistem dan pemakai membaik.
2) Analis dapat bekerja dengan lebih baik dalam menemukan kebutuhan pemakai.
3) Pemakai berperan lebih aktif dalam pengembangan system.
4) Spesialis informasi dan pemakai menghabiskan lebih sedikit waktu dan usaha dalam mengembangkan system.
5) Implementasi menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui sistem yang diharapkan.

Rancangan Sistem

Konteks Diagram

diagram adalah suatu diagram aliran data tingkat tinggi yang menggambarkan seluruh jaringan dan masukan keluaran (input/output) sebuah sistem yang dimaksud adalah untuk menggambarkan sistem yang sedang berjalan, mengidentifikasikan awal dan akhir data yang masuk dan keluar sistem.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV3JFKa07pNwhhCkY5dxxz16VD_KOqP4UsA_Ryp1F4SN7lxa7GKrI371XByrAw6pMsWK2OlS8PLFkhgrmmlzHbz6nvRms-3TaAcsNK_VZViZB8Qxc_Zb4X0LAA_QvLAEvO7zqBzQJVuqiB/s400/dfd.png

Data Flow Diagram(DFD)

Data Flow Diagram (DFD) sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir (misalnya lewat telepon, surat dan sebagainya) atau lingkungan fisik dimana data tersebut akan disimpan (misalnya hardisk, tape, disket dan lain-lain).

Data Flow Diagram (DFD) merupakan alat yang digunakan pada metodologi pengembangan sistem yang terstruktur. Data Flow Diagram (DFD) merupakan alat yang cukup popular sekarang ini, karena dapat menggambarkan arus data didalam sistem dengan terstruktur dan jelas. Data Flow Diagram juga merupakan dokumentasi dari sistem yang baik

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhh6E9iVNuyuvBD4W1xFPEylmt_UzksR2LFrguyvByHe1XY21GRUG52wie8bkcz_zD54cNUGdIfn4VmXY1kfV8LIkZ01nVG301rpf9gTVzyRWHhFxnLFXCYWfqek6_pZg3tqtekLn6SSB0C/s400/ss.png




Kesimpulan :

1. Sistem reservasi pesawat terbang berbasis web dapat menyediakan data dan pengolahan data untuk segala informasi mengenai jadwal penerbangan, pemesanan tiket pesawat terbang, biaya tiket pesawat terbang dan juga pembatalan keberangkatan suatu pesawat terbang.
2. Sistem reservasi pesawat terbang dapat diakses secara online di setiap tempat yang memilikisambungan internet. Sehingga sangat memudahkan pengguna yang ingin melakukan reservasi pesawat terbang.

Sumber :

Saturday, March 16, 2013

Sejarah bahasa Indonesia (Melayu)

Pada zaman kerajaan Hindu - Budha, bahasa Melayu mengalami percampuran bahasa dengan bahasa Sansekerta, dimana itu dapat di buktikan di 5 prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya.



Dan pada zaman itu, bahasa Melayu berfungsi sebagai :



  • Bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisia aturan-aturan hidup dan sastra.  
  • Bahasa perhubungan (Lingua Franca) antar suku di indonesia 
  • Bahasa perdagangan baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun pedagang yang berasal dari luar indonesia.
  • Bahasa resmi kerajaan.

Bahasa Melayu pun turut tersebar luas sampai ke pelosok - pelosok nusantara, sehubungan dengan datang dan menyebarnya Islam di wilayah nusantara. Dan bahasa Melayu kembali mengalami percampuran dengan bahasa lain, yakni bahasa Arab.


Dewasa ini, bangsa Melanesia menggunakan bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa ini adalah “bahasa pemersatu”, yang mendapat tempat utama dalam media komunikasi formal, baik sebagai bahasa teks maupun lisan, disekolah, perkantoran dan tentu saja pada media cetak dan elektronik.
Memang ada sisi baiknya, bahwa ‘bahasa Indonesia’ memainkan peran penting sebagai “jembatan” komunikasi menerobos diversitas linguistik yang berbeda satu sama lain (termasuk di Papua), dan memungkinkan para penuturnya menjangkau dunia pendidikan modern. Namun mesti disadari pula akan sisi buruknya, terutama bahwa ‘bahasa Indonesia’ menjadi dominan sehingga bahasa-bahasa lain keumgkinan akan tersisihkan. Entah bahasa Batak, Jawa, Bali dan termasuk 250 bahasa etnis Melanesia di tanah Papua. Padahal Bahasa Indonesia baru digunakan secara serius sejak 1950 di Papua oleh para pendakwah dan pejabat kolonial dalam rangka ‘menyatukan’ wilayah Papua dengan wilayah Hindia Belanda lainnya. Hal ini seiring dengan kebijakan diskriminasi kolonial Belanda yang hanya memperbolehkan bahasa Belanda diajarkan pada garis keturunan tertentu saja.

Apabila menenggok lebih jauh ke masa sebelumnya, maka bangsa Melanesia sebenarnya belum cukup dikenal para nasionalis Indonesia, selain sebagai koloni Belanda yang dalam banyak hal tidak terlibat langsung dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Diluar itu, wilayah ini cukup terisolir dari koloni Belanda di sebelah barat, kecuali wilayah pesisir utara yang menjalin hubungan dagang tradisional dengan Maluku. Selebihnya hanya bayang-bayang penjara besar – Boven Digul, di tengah sebagian besar masyarakat yang masih hidup di zaman batu (Benedict Andersson: 2002)
Ini berarti bangsa Melanesia, tidak terlibat dalam beberapa proses sejarah penting, terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia. Pertama, saat bahasa Indonesia dipermaklumkan sebagai bahasa persatuan pada Sumpah Pemuda 1928, tidak ada yang mewakili bangsa Papua dalam peristiwa tersebut, kedua, saat bahasa Indonesia dianjurkan semasa pendudukan Jepang untuk menggusur bahasa Belanda, hal itu tidak terjadi di Papua, apalagi karena pertimbangan militer dan kondisi sosial politik waktu itu, Jepang membagi Hindia Belanda menjadi tiga wilayah koloni terpisah, dan Papua berada dibawah Angkatan Laut yang berpusat di Makasar, ketiga, saat bahasa Indonesia dipergunakan sebagai wahana perlawanan menyerang kolonialisme yang dipuncaki proklamasi kemerdekaan RI 1945, justru bangsa Papua belum ‘mengenal’ NKRI.

Dari tiga fakta ini, bisa dibilang bahasa Indonesia adalah produk historis yang dalam prosesnya tidak sepenuhnya melibatkan bangsa Melanesia. Barulah pada tahun 1963 ketika Orde Lama mencanangkan operasi Trikora, dan disusul pelaksanaan Pepera semasa Orde Baru tahun 1969 bahasa Indonesia mulai dijadikan ‘bahasa resmi’ di Papua.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia yang sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, ia hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dll. Untuk sebagian besar lainnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama. Bahasa Indonesia ialah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia Kata “Indonesia” berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu Indos yang berarti “India” dan nesos yang berarti “pulau”. Jadi kata Indonesia berarti kepulauan India, atau kepulauan yang berada di wilayah India

Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, “jang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’, akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia”. atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, “…bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia”.

Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap “lahir” atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.

Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai penghantar pendidikan di perguruan-perguruan di Indonesia.
Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.

Bahasa Melayu Riau dipilih sebagai bahasa persatuan Negara Republik Indonesia atas beberapa pertimbangan sebagai berikut:

Jika bahasa Jawa digunakan, suku-suku bangsa atau puak lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan puak (golongan) mayoritas di Republik Indonesia.
Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan dengan bahasa Melayu Riau. Ada tingkatan bahasa halus, biasa, dan kasar yang dipergunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila pengguna kurang memahami budaya Jawa, ia dapat menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.

Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan Bahasa Melayu Pontianak, atau Banjarmasin, atau Samarinda, atau Maluku, atau Jakarta (Betawi), ataupun Kutai, dengan pertimbangan pertama suku Melayu berasal dari Riau, Sultan Malaka yang terakhirpun lari ke Riau selepas Malaka direbut oleh Portugis. Kedua, ia sebagai lingua franca, Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa Tionghoa Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.

Pengguna bahasa Melayu bukan hanya terbatas di Republik Indonesia. Pada tahun 1945, pengguna bahasa Melayu selain Republik Indonesia masih dijajah Inggris. Malaysia, Brunei, dan Singapura masih dijajah Inggris. Pada saat itu, dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, diharapkan di negara-negara kawasan seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa ditumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara-negara jiran di Asia Tenggara.

Dengan memilih Bahasa Melayu Riau, para pejuang kemerdekaan bersatu lagi seperti pada masa Islam berkembang di Indonesia, namun kali ini dengan tujuan persatuan dan kebangsaan.Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian distandardisasi (dibakukan) lagi dengan nahu (tata bahasa), dan kamus baku juga diciptakan. Hal ini sudah dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.

Begitulah Awal Mula Bahasa Indonesia yang dapat awalmula.com rangkum dari berbagai sumber, semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita seputar sejarah asal usul bahasa Indonesia.

Sumber :
www.google.com
www.wipedia.com key : sejarah bahasa indonesia

Tuesday, January 8, 2013

puisi adinda


     
Adinda...
Tersenyumlah saat kamu mengingatku
Karena saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kamu merindukanku
Karena saat itu aku tak berada disampingmu
Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
Karena saat itu aku akan terasa ada didekatmu
Karena aku telah berada dihatimu

Adinda...
Tak ada yang tersisa lagi untukku
Selain kenangan – kenangan yang indah bersamamu
Kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu

Adinda...
Aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu
Karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu didalam hatiku
Kamu takkan pernah terganti
Kini aku telah kehilanganmu...



        Ibu
Ibu...
Sejenak aku merenung dan terbayang akan kasih sayangmu
Sejak aku masih kecil, engkau merawat aku dengan penuh kasih sayang
Di saat aku sedang bertumbuh, dan berusaha untuk tahu segalanya
Saat itu aku sering berontak akan perintah-perintahmu
Sehingga engkau marah dan membentakku
Tak kusadari itu karena kasih sayangmu padaku.

Ibu...
Cintamu begitu mulia padaku
Sekalipun engkau tiada dana dan daya.
Tetapi engkau tetap berusaha memberiku kehidupan...
Dan sekalipun engkau dalam masalah
Tetapi engkau berusaha lebih dulu menjagaku

Ibu...
Tak dapat kugambarkan betapa besarnya pengorbananmu
Alangkah bodohnya aku, tak tahu berbalas budi dan tak perduli
Engkau tak pernah lupa untuk memohon kepada-Nya agar aku didampingi-Nya
di saat aku berada di tanah sebrang yang jauh...
Engkau selalu ingat akan diriku.

Ibu...
Tanpa engkau... mungkin aku akan menderita.
Ibu, engkau jarang tersenyum untukku,
Tapi inilah kesempatanku untuk berkata: tersenyumlah untukku..!
Terima kasih ibu.